Asian Games 2018 dari meja redaksi

Asian Games 2018 dari meja redaksi

Asian Games 2018 kini sudah di depan mata. Dalam beberapa hari ke depan, 45 negara dari Asia akan saling bersaing untuk menjadi juara di benua ini, menjanjikan banyak kisah menarik baik dari dalam maupun di luar arena pertandingan.

Namun, tak hanya para atlet yang akan berjibaku dengan keringat di ajang Asian Games kali ini. Jurnalis yang terjun ke lapangan juga harus memutar otak agar mampu mewartakan lebih dari 460 pertandingan dari 40 cabang olahraga (cabor), yang dipertandingkan di Jakarta, Palembang, dan sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Banten seperti Soreang, Cibinong, Bekasi, Cikarang, Puncak, Tangerang, Subang, hingga Majalengka, sehingga tak hanya atlet yang wajib menjaga kesehatan dan kebugaran mereka dengan  serius.

“Dari sisi fisik tentu jangan telat makan dan minum suplemen vitamin," ujar Redaktur Olahraga CNNIndonesia.com, Haryanto Tri Wibowo. "Dari sisi redaksi, tentunya kami harus memiliki perencanaan yang matang seperti mana cabang prioritas yang akan diliput, mengingat akan ada 40 cabang olahraga di Asian Games 2018 dan tidak akan mungkin bisa diliput semuanya."

Senada dengan pria yang sering dipanggil Bowie itu, pentingnya ketahanan fisik dan perencanaan yang matang juga turut disuarakan oleh Ramdani Bur, Redaktur Olahraga Okezone.com.

“Fisik prima pasti dibutuhkan. Apalagi, ajang ini berlangsung selama lebih dari dua minggu, sehingga dibutuhkan fisik yang benar-benar kuat. Selain itu, mempelajari cabor yang akan diliput juga penting agar tidak kebingungan saat berada di lapangan,” ujar Ramdani.

Jika kedua Redaktur Olahraga tersebut menekankan pentingnya daya tahan tubuh dan perencanaan peliputan yang baik, tantangan lain dihadapi oleh jurnalis dan media lainnya, yang turut meliput Asian Games meski bukan berasal dari media yang fokus pada isu-isu olahraga. Salah satunya adalah Femina, media yang biasanya fokus pada isu gaya hidup, fesyen, dan hiburan.
​​​​​
"Kami memiliki liputan tersendiri tentang Asian Games. Memang agak tricky karena kita 'kan majalah lifestyle, jadi harus melihat dari sudut pandang lain," ujar Redaktur Ficer Senior Femina, Citra Narada Putri. "Kami lebih melihat ke arah human interest-nya."

Cabor Prioritas
Meski Haryanto, Ramdani, dan Citra telah mengungkapkan tantangan masing-masing dalam peliputan Asian Games kali ini, tantangan yang sebenarnya baru akan muncul ketika pesta olahraga itu sudah dimulai. Dengan 40 cabor yang akan dipertandingkan, ada sejumlah cabor yang mungkin membuat Anda bingung seperti salah satunya kabaddi, olahraga asal India yang mengkombinasikan gulat dan permainan kelincahan.

Diakui oleh Jurnalis Viva.co.id, Hendra Saputra, kabaddi merupakan salah satu cabor yang akan cukup menantang untuk diliput karena ia mengaku belum cukup paham dengan aturannya. Nama olahraga nasional Bangladesh itu juga kembali disinggung oleh Ramdani, yang merasa perlu mulai mempelajari cabor asing yang akan diliput nanti.

“Sebagai jurnalis, kami dituntut untuk beradaptasi. Tentunya setiap jurnalis akan mempelajari nomor-nomor apa saja yang dipertandingkan cabor yang kurang familiar itu. Karena itu sejak saat ini saya sudah mempelajari semuanya agar memudahkan peliputan di lapangan,” Ramdani menjelaskan. 

Pentingnya mempelajari cabor yang akan diliput turut disuarakan oleh Bowie, yang kembali menekankan pentingnya peran meja redaksi untuk merencanakan liputan mereka.

“Kita harus tahu cabor mana yang paling diminati pembaca. Sebelum liputan, kita juga harus melihat data, waktu, dan di venue mana Indonesia berpeluang mendapatkan emas, jadi harus ada persiapan matang, dan semua kembali lagi ke prioritas liputan. Jika sudah memiliki cabang mana saja yang ingin diliput, seorang jurnalis harus sudah memiliki perencanaan dan pengetahuan soal cabor yang diliput,” ujar Bowie menekankan.

Jika berbicara tentang cabor prioritas, bulutangkis kembali menjadi cabor yang tampaknya paling menjual di mata pihak penyelenggara. Pasalnya tiket final bulutangkis untuk kelas VIP mencapai Rp800.000, jauh lebih mahal dibandingkan tiket final kelas VIP cabor lainnya seperti baseball (Rp500.000), softball (Rp400.000), maupun tinju (Rp250.000). Hal ini tak lepas dari besarnya peluang tim tuan rumah untuk meraih emas dan popularitas bulutangkis di Indonesia.

"Pastinya mungkin ada dua emas yang disumbangkan cabor bulutangkis, yaitu dari pasangan Kevin Sanjaya / Marcus Gideon (ganda putra) dan Tantowi Ahmad / Liliyana Natsir (ganda campuran)," ujar Hendra ketika ditanya tentang prediksinya di ajang Asian Games kali ini.

Kabar dari tuan rumah
Asian Games 2018 sendiri bukanlah kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah. Sebelumnya, negara kepulauan ini pernah menyelenggarakan Asian Games 1962, yang ditandai dengan sejumlah pembangunan tempat-tempat ikonik seperti Starion Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, hingga tugu selamat datang di Bunderan HI. Tapi, setelah 56 tahun berselang, dengan lebih dari 15 ribu atlet (jauh lebih banyak dibanding sekitar 1.400 atlet yang tampil di Asian Games 1962) ditambah officials dan pendukung dari masing-masing negara peserta, apakah Indonesia sudah siap?

“Persiapannya sudah maksimal. INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee) sudah bekerja sama dengan berbagai pihak agar pengerjaan infrastruktur selesai tepat waktu. Bahkan sejumlah venue selesai sebelum waktu yang sudah ditentukan," ujar Ramdani. "Selain itu, pembatasan kendaraan lewat metode ganjil-genap, plus penutupan 19 pintu tol (di Jakarta) juga dinilai efektif untuk mengurangi kemacetan. Hal ini penting agar para atlet yang tinggal di wisma altet di Kemayoran, dapat tiba di venue dalam kurun 30 menit.”

Senada dengan Ramdani, Bowie juga merasa cukup puas dengan persiapan tuan rumah meski ia merasa ada sejumlah venue yang baru dikebut di menit-menit terakhir. Namun, pembangunan yang dikebut itu dimaklumi oleh Jurnalis SINDOnews, Stefanus Susanto. Pasalnya, Komite Olimpiade Asia (OCA) sebetulnya menginginkan Asian Games diselengarakan pada 2019, agar jaraknya dengan Olimpiade musim panas tidak terlalu jauh (1 tahun). Namun, Asian Games akhirnya diselenggarakan pada tahun ini lantaran 2019 merupakan tahun politik di Indonesia (pemilihan umum).

Namun, secara keseluruhan, jurnalis-jurnalis tersebut tampaknya merasa cukup optimis terhadap Asian Games kali ini. Kebanyakan dari mereka berharap pergelaran Asian Games dapat berjalan dengan lancar dan Indonesia mampu meraih hasil yang lebih baik (pada Asian Games 2014 di Korea Selatan, Indonesia hanya bercokol di peringkat ke 17). Bahkan, Ramdani cukup berani membandingkan Asian Games kali ini dengan pesta sepak bola dunia pada musim panas lalu, Piala Dunia.

“Harapannya Indonesia tak hanya sukses meraih prestasi optimal (masuk 10 besar sesuai yang ditargetkan pemerintah), namun juga sukses dalam segi penyelenggaraan,” ujar Ramdani.

“Bukan tidak mungkin, penyelenggaraan Asian Games 2018 di Indonesia bisa lebih sukses dibanding Piala Dunia 2018 di Rusia.”

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Citra Narada Putri
  • Haryanto Tri Wibowo
  • Ramdani Bur
  • Stefanus Bridget Susanto
  • Muhammad Nurhendra Saputra
  • Telum Media
    8 kontak
    11 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert