Jakarta 21-22 Mei dari kacamata jurnalis

Jakarta 21-22 Mei dari kacamata jurnalis
Martinus Adinata

Usai penghitungan hasil suara pemilihan umum versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dipublikasikan Selasa (21/5), tensi di berbagai wilayah di Indonesia semakin memanas. Barikade polisi, kendaraan taktis anti huru-hara menjadi pemandangan umum di sejumlah titik vital di Jakarta, khususnya di kantor KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Para demonstran yang tidak puas dengan hasil penghitungan KPU, telah memadati area sekitar Bawaslu di daerah Thamrin sejak siang dan kendati banyak kantor di sekitar Thamrin memutuskan untuk meliburkan karyawan lantaran tensi yang memanas, kondisi demonstrasi siang itu sebetulnya berjalan relatif kondusif. Sayangnya, situasi kian memanas ketika matahari mulai terbenam.

“Sekitar pukul 9 malam demonstran berusaha menembus barikade petugas dan semakin berapi-api dalam berorasi. Sempat terjadi dorong-dorongan antara petugas dan demonstran namun suasana masih bisa dikendalikan hingga massa membubarkan diri pada pukul 12 malam,” ujar Mas Agung Wilis Yudha Baskoro, Jurnalis Foto The Jakarta Globe yang meliput di sekitar Thamrin.

“Kemudian, kericuhan yang lebih hebat terjadi. Massa yang membubarkan diri kembali lagi ke Bawaslu. Polisi kembali berjaga dan terpaksa mendorong massa menjauhi Sarinah. Massa mundur ke basis-basis kecil mereka di beberapa titik seperti Jalan Sabang, Tanah Abang, Petamburan, dan Jati Baru.”

Memasuki pergantian hari, pada Rabu (22/5), alih-alih situasi mulai mereda, kerusuhan justru menyebar ke sejumlah tempat. Terjadi perusakan dan pembakaran sejumlah mobil yang terparkir di depan asrama Brimob di Jalan KS Tubun dan kerusuhan menyebar dari Tanah Abang ke Jati Baru, Jakarta Barat.

“Demonstran sudah rusuh dan ramai di situ (Jati Baru). Saya diusir paksa oleh demonstran di sana. Demi alasan keamanan saya mundur dan beralih ke Jalan KS Tubun tapi situasinya tidak jauh berbeda,” ujar Yudha menggambarkan situasi pada Rabu pagi.

“Saya berhasil lari ke barisan polisi yang memungkinkan saya untuk melakukan liputan dengan sedikit aman walaupun gas air mata sempat mampir ke mata saya beberapa kali.”

Foto yang menjadi viral dan fakta di lapangan
Di balik situasi lapangan yang memanas, Yudha sendiri mendapatkan sebuah momen spesial, yang menjadi salah satu sorotan di liputan 21-22 Mei lalu. Jepretan kameranya berhasil menangkap potret dua anggota Brimob yang beristirahat sambil saling menyenderkan punggung mereka satu sama lain. Ketika salah satu anggota Brimob memejamkan mata seakan tak ingin melewatkan kesempatan untuk istirahat sejenak, anggota Brimob yang lainnya memanfaatkan momen itu untuk menghubungi anaknya.

“Saya sempat ajak ngobrol bapak Brimob yang menghadap ke arah saya. Tapi tak berapa lama, dia memejamkan matanya. Wah, saya pikir dia ngantuk nih. Nah, saat itu Bapak Brimob di belakangnya mengeluarkan ponsel untuk video call dengan anaknya. Ya sudah, karena saya pikir ini momen yang bagus, ya saya foto aja,” ujar Yudha menjelaskan.

“Saya agak menjauh sedikit supaya tidak mengganggu momen istirahat mereka. Hanya tiga hingga tujuh frame kalau tidak salah. Setelah salat tarawih selesai, tiba tiba massa di depan langsung orasi sehingga momen video call itu langsung terhenti dan mereka siaga lagi.”

Foto hasil jepretan Yudha itu menjadi viral dan apresiasi masyarakat banyak ditujukan kepada kerja keras aparat dalam menangani aksi 21-22 Mei lalu. Apalagi, kericuhan itu terjadi di bulan puasa, membuat semua pihak terkait harus menahan lapar dan emosi di bulan suci umat Muslim tersebut.

“Cerita tentang demonstrasi pilpres ini bukan hanya kontestasi politik, bukan soal menang atau kalah, tetapi juga ada sisi kemanusiaan yang kita semua tidak boleh lupa,” ujar Yudha.

Liputan selama 21-22 Mei itu juga menghasilkan sejumlah kisah lain yang mungkin tidak tertangkap masyarakat. Salah satunya, fakta di lapangan yang diamati oleh Jurnalis Bisnis Indonesia, Lalu Rahadian.

“Semua fakta di lapangan sebetulnya sudah banyak tertuliskan di berita-berita. Tapi yang tidak boleh dilupakan yaitu bagaimana massa dengan bebas bisa berada di kawasan pusat perbelanjaan Sarinah dan Gedung Djakarta Theater. Tak ada larangan polisi bagi massa masuk ke dua gedung itu, meski keduanya tidak beroperasi pada hari kejadian,” ujar Lalu.

Sedangkan, Yudha memilih untuk menyoroti insiden mobil ambulans yang tertangkap mengangkut batu-batu yang menjadi senjata andalan massa demonstran menghadapi polisi.

“Masyarakat banyak yang masih percaya jika aparat itu jahat akibat kaca ambulans pecah dan petugasnya dipukuli. Ya, itu karena ambulans itu bawa batu dan tidak netral karena hanya menolong demonstran dan menggunakan kedok medis,” ujar Yudha menambahkan. “Selain itu, demonstran juga banyak yang bukan orang Jakarta.”

Pengalaman berbeda dialami Jurnalis KOMPAS.com, Verryana Novita Ningrum. Pasalnya, Jurnalis yang biasa dipanggil Imel itu melihat sendiri bagaimana masyarakat di lapangan sangat mudah terprovokasi.

"Banyak anak kecil di gang-gang yang ikutan rusuh. Mereka menunjukkan golok atau senjata tajam lainnya ke siapapun yang lewat," ujar Imel. "Ya mereka ikut-ikutan saja. Mungkin karena melihat ada kerusuhan, remaja-remaja itu ikutan lempar-lemparin batu padahal mereka itu kadang tidak paham apa yang terjadi."

Pentingnya kontrol diri
Terjun ke lapangan dengan kondisi yang tidak kondusif juga membuat jurnalis harus memperhatikan keselamatan mereka. Apalagi selama liputan 21-22 Mei, banyak cerita sejumlah jurnalis yang menjadi sasaran amukan massa. Mulai dari persekusi massa terhadap wartawan televisi yang dianggap tidak netral dalam pemberitaannya, kendaraan jurnalis yang turut menjadi korban pembakaran yang dilakukan sejumlah oknum, hingga tindakan kekerasan yang dialami sejumlah jurnalis.

"Saya datang setelah subuh ke Petamburan, sekitar pukul 5.30 pagi. Saat datang memang sedang rusuh. Puluhan orang di gang melempar bom molotov ke arah Brimob yang berada di jalan KS Tubun," ujar Imel.

"Dan memang seharian itu isinya rusuh saja. Mungkin sudah lebih dari tujuh kali saya kena gas air mata. Kondisinya sangat kacau, itu pertama kalinya saya meliput kerusuhan yang sekacau itu."

Semakin malam, situasi justru semakin memanas. Imel menyaksikan bagaimana massa semakin berdatangan. Langit yang semakin gelap juga menambah suasana menjadi lebih mencekam, apalagi ia melihat sejumlah massa mempersenjatai diri mereka dengan bambu dan berbagai hal lainnya. Mereka melemparkan kembang api, petasan, dan batu, yang dibalas dengan semprotan gas air mata polisi.

Dalam kondisi seperti ini, identitas sebagai jurnalis bagai pisau bermata dua. Pasalnya, jika mengaku menjadi jurnalis, ada kemungkinan menjadi target kemarahan massa lantaran mereka menganggap sejumlah media tidak netral dalam pemberitaan terkait pemilu. Sedangkan jika tidak mengaku sebagai jurnalis, jurnalis itu bisa saja dianggap sebagai bagian dari perusuh oleh pihak kepolisian.

"Jelas terancam," ujar Imel tertawa ketika disinggung tentang penggunaan ID jurnalis ketika liputan 21-22 Mei. "Apalagi bagi media-media yang dicurigai massa mendukung salah satu pasangan calon. Lebih baik tidak menggunakan ID wartawan kalau dekat perusuh."

Jika Imel cukup beruntung dapat menghindari konfrontasi langsung dengan massa, Yudha sayangnya tak seberuntung itu lantaran ia sempat menghadapi langsung para perusuh. Meski tidak mengalami cedera fisik, salah satu perlengkapan yang ia bawa turut menjadi korban keganasan massa perusuh.

“Kamera saya rusak satu ketika meliput di depan Bawaslu. Ada demonstran yang entah kenapa tidak suka dengan wartawan dia teriak ke saya dan seketika teman temannya menggerombol lalu hendak mengeroyok saya,” ujar Yudha memaparkan pengalamannya. “Saya selamat karena teman wartawan lain datang dan menyelamatkan saya.”

Ancaman-ancaman inilah yang membuat jurnalis harus mampu menganalisa situasi dan mendahulukan keselamatan mereka. Pasalnya, kondisi yang memanas membuat emosi para demonstran dan juga aparat kepolisian menjadi tidak stabil, sehingga jurnalis harus mampu menahan diri agar tidak terjebak di tengah kekacauan tersebut. Produser Al Jazeera, Ikhsan Raharjo, yang turut terjun ke lapangan pada saat itu, menegaskan pentingnya kontrol diri setiap jurnalis yang ada di lapangan.

“Kenali psikologi massa ketika meliput dan jangan memaksakan diri dalam mengambil gambar,” ujar Ikhsan. “Dalam kasus 22 Mei lalu, ada jurnalis televisi sempat diancam ketika terlalu dekat mengambil gambar polisi yang sedang mengeroyok demonstran. Dalam situasi seperti itu, emosi polisi dan demonstran tentu sedang tinggi jadi jangan sampai kita yang justru menyulut ketegangan. Baiknya tetap ambil gambar peristiwa tersebut dalam jarak yang relatif aman.”

Lantas, tantangan terbesar untuk liputan dalam kondisi seperti ini?

“Tantangan paling besar adalah selamat,” ujar Yudha. “Serta tentunya menghasilkan berita yang tanpa judgement.”

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Lalu Rahadian
  • Ikhsan Raharjo
  • Mas Agung Wilis Yudha Baskoro
  • Verryana Novita Ningrum
  • Telum Media
    11 kontak
    11 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert