Jurnalisme modern, antara kecepatan dan akurasi

Jurnalisme modern, antara kecepatan dan akurasi
Martinus Adinata

Di zaman yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai informasi dengan mudah dan cepat, media dituntut untuk mampu mengimbanginya dengan menghadirkan informasi terkini dengan cepat dan benar.

Apalagi, internet yang merambah ke berbagai pelosok daerah membuat akses informasi terkadang seperti arus deras air, yang jika tidak dibendung dapat menenggelamkan.

"Ada idiom speed kills you, artinya butuh kehati-hatian ketika kita mau cepat, karena kalau tidak berhati-hati, kecepatan itu akan berbalik membunuh kita," ujar Head of Newsgathering CNN Indonesia TV, Revolusi Riza.

"Ada beberapa kasus, ketika teman-teman jurnalis ingin segera cepat, tapi justru malah tidak akurat."

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu mengambil contoh kasus bom Thamrin yang terjadi pada 2016 lalu, di mana saat itu banyak informasi beredar tentang serangan bom lanjutan, maupun teroris yang berkeliling di daerah Semanggi.

"Jadi waktu itu memang ada sejumlah isu yang beredar di WhatsApp group dan media sosial tentang beberapa bom susulan. Selain itu ada juga kelompok teroris yang berkeliling kota menggunakan mobil SUV putih sambil membawa senapan," ujar Revolusi melanjutkan.

"Ada beberapa media yang memuatnya tanpa melakukan proses verifikasi, beberapa stasiun TV mempublikasikannya dalam bentuk running text. Karena terburu-buru, media terjerembab karena tidak melakukan proses verifikasi yang memadai."

Media sosial, kawan atau lawan?
Memang, menjadi yang tercepat akan menjadi sebuah prestasi yang membanggakan bagi media. Tak heran, banyak media di Indonesia menyertakan kata 'cepat', 'terdepan', maupun 'terkini' sebagai tagline media mereka.

Namun, permasalahan justru menjadi semakin kompleks lantaran penyebaran informasi kini juga semakin dipermudah dengan kehadiran media sosial, yang memungkinkan masyarakat umum membagi-bagikan informasi yang belum tentu dapat dikonfirmasikan kebenarannya.

Tantangan itu diakui oleh Pemimpin Redaksi Merdeka.com, Ramadhian Fadillah. Ia melihat penyebaran informasi yang begitu liar menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi insan media di Indonesia.

"Media beda dengan beberapa tahun lalu. Sekarang ini WhatsApp dapat lebih cepat dari media mainstream. Lagipula, wartawan kita ada berapa sih? Mau mengkover seluruh Indonesia kan tentunya sulit," ujar Ramadhian.

"Sementara saingan kita di WhatsApp, Facebook, dll, bisa saja orang mengambil gambar, menyebarkan, tanpa verifikasi. Sedangkan, Reporter kita ke TKP memakan waktu, belum lagi membuat beritanya. Sudah pasti akan kalah dalam hal kecepatan dengan informasi-informasi yang beredar itu."

‘Persaingan’ antara media mainstream dan media sosial juga turut disoroti oleh Revolusi Riza. Pasalnya, kemudahan masyarakat awam untuk mempublikasikan konten, video, dan berita, dapat menyesatkan masyarakat dan media mainstream itu sendiri jika tidak ada kemauan dan usaha untuk menyaringnya.

“Media sosial dapat menjadi amunisi, tetapi juga dapat mengecoh. Media yang baik menggunakan media sosial untuk kepentingan jurnalistiknya. Media sosial itu kan dapat menjadi sarana publikasi, sarana PR-ing, platform untuk jurnalistiknya, sekaligus untuk menghimpun informasi, tetapi dalam menghimpun informasi itu kan juga ada langkah-langkah tambahan lainnya seperti verifikasi, izin, rights dan clearance,” ujar Revolusi menjelaskan.

“Nah, di lapangan seringkali banyak media melupakan verifikasi serta izin rightsnya itu tadi.”

Kecepatan dan akurasi
Lantas, apakah kecepatan dan akurasi dapat berjalan beriringan?

"Bisa," ujar Wakil Redaktur Pelaksana Koran SINDO, Armydian Kurniawan, tegas. "Kita bekerja di media kan ada prinsip-prinsipnya, ketika prinsip jurnalisme dasar itu kita terapkan dalam proses produksi berita, seharusnya kecepatan dan akurasi dapat berjalan beriringan."

Senada dengan Armydian, Revolusi Riza juga merasa media-media di Indonesia sebetulanya mampu menyandingkan antara kecepatan dan verifikasi.

"Sebenarnya cepat itu bisa saja, asalkan kita memiliki perangkat dan kemmpuan verifikasi yang cukup. Ini kan sebetulnya lumrah di banyak tempat (media), tapi memang prinsipnya harus tetap hari-hati," ujar Riza.

“Yang dijual dalam bisnis berita (media) adalah bisnis kredibilitas. Adalah wajib hukumnya media tidak melakukan kesalahan. Ya memang kesalahan itu sebuah keniscayaan, tapi kan sebisa mungkin kita tidak melakukannya. Apalagi kesalahan informasi karena prosedur verifikasi (yang terlewatkan).”

Prinsip kehati-hatian itu juga turut disinggung oleh Pemimpin Redaksi Merdeka.com. Pasalnya, ia merasa peran media sebagai sumber informasi yang akurat harus tetap dipegang teguh oleh insan media.

"Kecepatan itu penting, tapi akurasi itu lebih penting," ujar Ramadhian. "Idealnya cepat dan akurat, saya rasa semuanya mau seperti itu. Tapi jika harus memilih antara cepat dan akurat, kita pilih akurat."

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Armydian Kurniawan
  • Ramadhian Fadillah
  • Revolusi Riza Zulverdi
  • Telum Media
    9 kontak
    33 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert