Kondisi terkini dan masa depan jurnalisme

Oleh Sudha Raman dan Ernie Lee

Efek pandemik COVID-19 terhadap perekonomian dan cara kita bekerja kini semakin terasa. Untuk mengatasi itu, banyak media di seluruh dunia terpaksa mengubah cara kerja. Beberapa bahkan tidak mampu bertahan sehingga benar-benar tutup dan membuat banyak pihak mulai bertanya-tanya, bagaimana masa depan jurnalisme?

Baru-baru ini, Telum Media menyelenggarakan webinar yang didukung oleh Singapore Press Club. Webinar itu menghadirkan Stephanie Pang (Redaktur Pelaksana Asia Tenggara untuk Bloomberg), Joon-Nie Lau (Direktur dari Asosiasi Penerbit Berita Dunia, sekaligus Wakil Presiden Singapore Press Club), serta Yeo Sam Jo (Koresponden Multimedia dari The Straits Times dan juga Anggota Komite Manajemen di Singapore Press Club) sebagai panelis. Mereka membahas situasi terkini dan masa depan jurnalisme di Asia Tenggara dari perspektif bisnis dan memberikan wawasan seputar jurnalisme yang berkualitas.

Webinar yang berlangsung selama satu jam ini dibawakan oleh Region Head Telum Media untuk kawasan Asia Tenggara, Haikel Fahim. Acara ini dihadiri hampir 1,300 profesional di bidang media dan komunikasi.

Pelajaran dari pandemi
Krisis ini telah mengajarkan Bloomberg bahwa mereka dapat membuat seluruh ruang redaksi bekerja dari jarak jauh. Stephanie mengatakan itu semua dapat dilakukan berkat perkembangan teknologi. Namun, ruang redaksi harus tetap menyesuaikan proses kerja mereka. Komunikasi antara jurnalis di ruang redaksi kini harus dilakukan lewat perantara alat komunikasi internal. Belum lagi dengan kesulitan teknis lantaran kurangnya infrastruktur internet rumah yang beragam, sehingga membuat jurnalis harus bekerja lebih keras. Namun, Stephanie merasa kerja jarak jauh seperti ini tidak akan menjadi kebijakan permanen dan Bloomberg siap untuk kembali ke kantor ketika kondisi sudah lebih aman.

Stephanie juga merekomendasikan setiap media untuk merencanakan model bisnis mereka ke depan dan bagaimana mereka mampu beradaptasi dengan berubahan kebutuhan audiens masing-masing. Meski harus memikirkan bagaimana dan di mana publik mengonsumsi berita, Stephanie merasa ruang redaksi akan berkembang dan beradaptasi. Apalagi perubahan cara kerja di ruang redaksi bisa saja menghasilkan hasil yang lebih baik untuk audiens.

Kualitas jurnalisme
Kepemimpinan lokal dan suara yang beragam
Para panelis secara umum juga sepakat bahwa kualitas pelaporan berita merupakan sesuatu yang esensial dan tidak boleh dikompromikan. Terlepas dari berita yang faktual, kredibel, dan akurat, Stephanie juga memperkenalkan bagaimana Bloomberg tetap memastikan kualitas pemberitaan mereka.

“Di kawasan seperti Asia, penting bagi kami untuk memiliki Editor dan Reporter lokal yang mampu mencari narasumber yang tepat untuk berita kami, orang-orang yang memiliki kearifan lokal dan mampu merepresentasikan keberagaman wilayah di Asia,” ujar Stephanie.

Selain menyoroti pentingnya perspektif lokal di setiap pemberitaan, Stephanie juga menegaskan komitmen Bloomberg untuk melibatkan lebih banyak wanita dalam kepemimpinan mereka sebagai langkah menuju keberagaman di ruang redaksi.

Ia juga menekankan pentingya setiap organisasi media untuk memberikan ruang bagi semua kalangan. Sebagai contoh, Stephanie mengatakan bagaimana New Voices Initiative dari Bloomberg yang meningkatkan keseimbangan gender dengan cara mengutip banyak narasumber perempuan untuk pemberitaan mereka.

Kerja keras dan verifikasi
Selain keragaman dari perspektif pelaporan berita, Sam Jo menekankan kerja keras merupakan poin esensial dalam menghasilkan sebuah pemberitaan yang berkualitas. Ia merasa metode tradisional di mana jurnalis terjun ke lapangan dan mewawancarai langsung narasumber selalu menghasilkan pemberitaan yang lebih berkualitas. Mengingat banyak jurnalis muda memiliki stamina dan energi yang lebih banyak, ia merasa mereka seharusnya mampu bekerja lebih keras untuk menghasilkan pemberitaan yang lebih berkualitas.

Sam Jo juga merasa penting bagi media untuk tidak mengabaikan isu-isu tertentu hanya karena isu tersebut menarik untuk segelintir orang saja. Ia mendorong rekan-rekan jurnalis untuk terus bekerja keras menggali informasi – entah itu di lapangan maupun melalui arsip nasional, untuk memeriksa fakta sehingga berita menjadi akurat.

Masalah finansial dan pendapatan
Penutupan media
Pandemik COVID-19 membawa ancaman ekonomi bagi banyak media dan banyak merasa khawatir akan semakin banyak media yang tutup. Namun, Joon-Nie merasa sebetulnya industri media sudah mulai goyang selama 20 tahun terakhir dan juga tidak sedikit media yang tutup sebelum pandemik terjadi. Ia beranggapan pandemik bukanlah alasan utama industri media menurun, melainkan salah satu faktor yang mempercepat penurunan tersebut.

Ia juga merasa tidak semua penutupan media berkaitan dengan faktor ekonomi dan mengambil contoh penutupan ABS-CBN dan Utusan Malaysia, yang lebih bersifat politis.

Model pendapatan mana yang berfungsi?
Meskipun tidak ada templat umum yang dapat digunakan outlet media untuk merencanakan model pendapatan mereka, Joon-Nie mendorong penggunaan fitur langganan dan keanggotaan digital.

Meski sadar bahwa konsumen mungkin tidak akan menyukai itu, Joon-Nie berkata, “Anda harus membuat konsumen Anda membayar karena konten Anda bernilai – dengan cara ini Anda memiliki hubungan dengan konsumen dan Anda akan melayani konsumen Anda. Ini membuat Anda merasa lebih bertanggung jawab terhadap konsumen dibandingkan pengiklan.”

Joon-Nie sadar bahwa pendapatan yang mengadopsi model iklan dulu sangat bagus, tetapi hal itu mulai berubah lantaran adanya penetrasi digital dan berbagai faktor lainnya.

Ia melihat sejumlah media besar di Singapura seperti Singapore Press Holdings, cukup berhasil mengatasi tantangan ekonomi dengan berbagai investasi seperti investasi masa tua, properti, perumahan pelajar, sekolah, dan usaha digital.

Joon-Nie juga berharap dapat melihat industri lain berinvestasi di sektor media, seperti akuisisi South China Morning Post yang dilakukan Alibaba.

Cetak vs digital: Perspektif pendapatan
Menanggapi sentimen "senjakala media cetak", Sam Jo mengklaim bahwa "media cetak merupakan bagian dari ekosistem multimedia yang beragam dan kita harus melihat media cetak dapat berdiri berdampingan dan tidak hanya sebagai pendahulu media daring.” Sam Jo merasa keduanya seharusnya tidak saling berseberangan.

Ia berargumen media cetak dan digital menawarkan pengalaman membaca yang berbeda, dan media cetak memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menarik perhatian orang lebih lama, serta mampu menjangkau audiens dari generasi yang lebih tua, maupun yang bergerak di industri pendidikan.
Terkait dengan perdebatan antara media cetak dan daring, Joon-Nie juga mengutip statistik dari World Press Trends, sebuah survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penerbit Berita Dunia yang melibatkan semua asosiasi industri surat kabar di berbagai belahan dunia. Ia menunjukan angka terbaru memperlihatkan media cetak masih mampu meraup 86 persen hasil penjualan surat kabar secara global, dan hanya mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar satu persen. Selain itu, 54 persen pendapatan media cetak berasal dari penjualan sirkulasi mereka.

Meski media cetak mungkin mulai meredup dan media digital terus berkembang, Joon-Nie merasa perjalanan media digital untuk menghadapi media cetak masih jauh lantaran media cetak masih menjadi pilihan bagi banyak orang.

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Stephanie Phang
  • Sam Jo Yeo

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert