Secangkir kopi bersama Afut Syafril, Jurnalis ANTARA News

Secangkir kopi bersama Afut Syafril, Jurnalis ANTARA News

Apa bedanya bekerja di sebuah kantor berita (newswire) dengan media lainnya? Apakah menjadi seorang jurnalis newswire memiliki tantangan tersendiri? Telum duduk bersama Jurnalis ANTARA News, Afut Syafril, dalam sebuah perbincangan santai yang ditemani oleh secangkir kopi panas di tengah kesibukan kota Jakarta.

“Sebagai jurnalis newswire, kita harus menulis bidang yang spesifik, khusus, dan teknis. Tanggung jawabnya cukup berat karena berita kita nantinya akan dikutip oleh banyak media. Maka ketika berita yang kita tulis itu salah, akan ada banyak media yang menuntut kita,” ujar Afut

Selain itu, Afut juga memaparkan bagaimana jurnalis newswire juga dituntut mencari angle berita yang berbeda dengan kebanyakan media.

“Kecuali kejadian besar atau breaking news, newswire itu dituntut untuk mencari angle ringan yang tidak dipikirkan media lain, karena jika kita hanya memberitakan berita yang sama dengan media lainnya, berita kita tidak akan laku,” ujar Afut menjelaskan.

Selain itu, salah satu perbedaan yang paling mencolok antara jurnalis newswire dengan jurnalis di media lainnya, terletak pada masalah atribusi kepada jurnalis yang melakukan peliputan. Pasalnya, berita yang mereka tulis kadang dipublikasikan oleh media lain tanpa memberikan mencantumkan nama mereka.

“Sama sekali tidak dikutip. Beberapa media memang ada yang mencantumkan kredit, tapi biasanya hanya nama ANTARA,” ujar Afut. “Tapi itu sudah resiko dan kita sudah paham akan hal itu. Itulah yang membedakan kantor berita dengan media massa yang lain.”

Tahun baru di pedalaman Papua
Sama seperti jurnalis lain pada umumnya, banyak pula kisah-kisah menarik yang dialami Afut selama menjadi Jurnalis. Meski baru empat tahun menjadi Jurnalis, ia telah merasakan manis-pahitnya liputan daerah, termasuk ketika menjelajahi pedalaman Papua, 2015 lalu.

“Saya ingat saya harus berangkat (ke Papua) akhir tahun 2015, yang membuat saya haurs melewatkan pergantian tahun di sana,” ujar Afut menceritakan. “Di sana waktunya itu 2 jam lebih cepat, jadi sempat ada rasa ingin pamer (di media sosial) dengan merayakan Tahun Baru lebih cepat. Tapi jangankan mau tahun baruan, di sana tidak ada sinyal, tidak ada listrik.”

Menghabiskan hampir 18 jam perjalanan darat dan laut, perjalanan itu berbuah manis untuk Afut lantaran ia disuguhi keindahan alam Papua yang masih asri. Masyarakat yang menyambut juga masih mengedakan baju adat dan sangat ramah, membuatnya kagum akan keindahan Papua meski jika berbicara tentang kenyamanan, ia tetap merindukan suasana perkotaan.

“Itulah pertama kalinya saya kangen aspal,” ujar Afut sambil tertawa.

Menetap di Papua selama satu pekan, Afut merasakan sulitnya akomodasi di sana. Mulai dari sulitnya mengirimkan berita lantaran sinyal yang timbul tenggelam, hingga sarana MCK yang terbatas, Ia juga merasakan bagaimana mahalnya satu botol minuman bersoda, yang harganya lima kali lipat dari harga pasaran di Jakarta.

Berhadapan dengan media sosial
Meski telah berhadapan dengan liputan-liputan yang cukup menyulitkan, Afut merasa tantangan bagi jurnalis saat ini adalah pesatnya informasi yang berseliweran di media sosial.

“Di jaman modern seperti ini, saya sempat merasa jurnalis kehilangan keistimewaannya dalam menyebarkan informasi. Kita harus bersaing dengan media sosial,” ujar Afut.

“Saya sempat merasa lelah. Ketika kita (jurnalis) harus mencari fakta berimbang, sesuai dengan kaidah jurnalistik, di media sosial orang dengan mudah bisa mengatakan hal yang aneh-aneh. Tak jarang berita kita juga dianggap hoax.”

Namun, lulusan Universitas Paramadina ini tetap bangga dengan profesinya, terlebih jika mengingat dampak yang ditimbulkan dari sebuah berita. Afut mengambil contoh peristiwa bom Thamrin (2016). Di tengah kepanikan masyarakat akan banyaknya berita yang berseliweran, jurnalis dapat menjadi titik terang informasi bagi masyarakat.

“Ketika peristiwa bom Thamrin, saya menyadari jika pemberitaan terorisme itu besar dampaknya. Entah itu semakin membuat masyarakat panik dengan informasi-informasi tidak jelas atau justru membuat masyarakat tenang,” ujar Afut. “Di sinilah peran penting jurnalis. Jurnalis itu harus pintar mendidik masyarakat, tidak ikut-ikutan menyebarkan ketakutan.”

Ingin berbagi kisah Anda sambil ditemani secangkir kopi? Silahkan hubungi kami di sini.

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Afut Syafril
  • ANTARA News
    13 kontak
    7 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert