Secangkir kopi Bersama Djaka Susila, Pimpinan Redaksi Koran SINDO / SINDOnews

Secangkir kopi Bersama Djaka Susila, Pimpinan Redaksi Koran SINDO / SINDOnews

Mengawali karier sebagai jurnalis di media cetak, Djaka Susila kini memiliki tantangan baru setelah ditunjuk sebagai Pemimpin Redaksi Koran SINDO dan SINDOnews. Namun meski berbeda platform (Koran SINDO merupakan media cetak dan SINDOnews merupakan media daring), Djaka berbagi kisahnya bergulat dengan dua dunia yang berbeda itu lewat sebuah perbincangan ringan di pusat Jakarta.

Content is king so treat it as a King,” ujar Djaka memulai perbincangan kami sambil menyeruput kopi panas di depannya.

Menyadari bahwa konten merupakan inti dari keberlangsungan media, Djaka memaparkan bagaimana perbedaan mendasar antara media cetak dan media daring. Jika bersama SINDOnews ia berkutat dengan kecepatan sambil tetap berusaha mempertahankan keakuratan, ia harus sedikit memutar otak ketika berurusan dengan Koran SINDO. Pasalnya, di zaman yang kini serba digital, media cetak harus berjuang ekstra keras untuk mempertahankan eksistensinya.

“Saya meminta teman-teman (cetak) untuk memakai istilahnya Bill Keller (mantan jurnalis New York Times). Terjemahan kasarnya kurang lebih: Jika sebuah berita sudah dimuat di online, sudah disiarkan radio, dan ditayangkan televisi, hei orang-orang koran, masih tegakah kalian memuat itu untuk headline besok?” ucap Djaka.

“Istilahnya ya, jangan garami lautan. Sekarang itu eranya digital dan informasi itu begitu cepat menyebar. Saya minta kalian harus punya sesuatu yang berbeda untuk ditawarkan ke pembaca.”

Tantangan Media Cetak
Menyadari era digital membawa perubahan perilaku pembaca, Djaka menegaskan pentingnya media cetak untuk terus bertransformasi seiring dengan perkembangan zaman.

 “Yang membunuh koran bukanlah digital, melainkan koran itu sendiri. Karena tidak mau berubah,” ujar Djaka menjelaskan.

Alih-alih bersaing dengan media daring yang pasti akan selalu menang dalam hal kecepatan, Koran SINDO di bawah asuhan Djaka berusaha untuk mencari angle-angle lain dan isu-isu yang dekat dengan pembaca.

Djaka juga menampik jika era digital akan semakin menenggelamkan media-media cetak di Indonesia. Ia berargumen media cetak pada kenyataannya selalu mampu melewati perubahan zaman. Ia mencontohkan bagaimana industri media cetak terbukti mampu bertahan ketika dihantam kemunculan radio di awal 90-an. Pun begitu ketika televisi mulai naik daun, industri media cetak terbukti tetap bisa mempertahankan eksistensinya.

Tak heran, ia merasa anggapan orang bahwa banyak media cetak yang gulung tikar merupakan tanda-tanda industri ini mulai kehilangan daya tariknya.

“Banyak yang tidak sadar, sebetulnya ketika 1998 (reformasi di Indonesia), ada semacam euforia. Banyak sekali media yang terbit saat itu tapi kemudian tak mampu bertahan,” ujar Djaka.

“Kenapa? Itu bukan karena digitalisasi. Karena merayakan euforia, banyak yang sebetulnya tidak tahu mengelola media cetak yang baik itu seperti apa. Selain itu, jika mau dilihat lebih jauh sebetulnya tak hanya media cetak yang tumbang. Banyak juga lho media daring yang kini menghilang.”

Tanpa membeberkan rahasia dapurnya, alih-alih menyalahkan digitalisasi sebagai malaikat maut industri cetak, Djaka dengan tegas mengatakan pentingnya terus mengaktualisasi diri dan mengikuti perkembangan zaman. Meski begitu, ia tetap mengakui bahwa menjalani perubahan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Mengapa banyak media yang tidak mau berubah? Ya jujur saja, ruang redaksi itu ruang dengan ego yang sangat tinggi. Pride-nya sangat tinggi. Saya merupakan seorang wartawan dan kadang untuk berubah itu sangat sulit.”

Dua sisi digitalisasi
Tantangan di zaman yang serba digital ini juga tak hanya menghantui ruang redaksi semata. Pasalnya, jurnalis-jurnalis yang di lapangan juga memiliki tantangan tersendiri ketika sedang meliput.

Begitu mudahnya informasi menyebar, sumber-sumber berita yang bermunculan dari banyak medium, hingga narasumber yang tak jarang memiliki agenda tersendiri, membuat jurnalis harus jeli menempatkan dirinya di tengah ‘kegaduhan’ ini.

“Jika ada wartawan senior mengatakan ‘enak ya zaman sekarang’, menurut saya itu pernyataan yang bodoh. Pernyataan yang salah,” ujar Djaka.

Menyoroti bagaimana hoax dapat menyebar dengan begitu cepat melalui pesan berantai, Djaka sempat mengaku marah ketika ada salah satu timnya yang menyebarkan berita tanpa sumber yang jelas di grup WhatsApp internal. Lantaran ia menyadari bagaimana informasi tanpa sumber itu dapat menyebar luas dalam hitungan detik, tapi akan sangat sulit dan lama untuk menghentikan peredaran kabar tersebut dengan informasi yang terverifikasi.

Mengambil contoh kejadian bom di Thamrin (2016), Djaka menyoroti bagaimana di tengah ketakukan masyarakat akan serangan terorisme itu, malah banyak informasi-informasi tak jelas yang menyebar begitu cepat di aplikasi pesan dan media sosial. Apalagi, bagi pelaku industri media daring yang mengagungkan kecepatan, proses verifikasi terkadang menjadi langkah yang justru terlewatkan.

“Jadi saya mohon, rekan-rekan wartawan. Sekarang itu informasi semakin banyak dan cepat menyebar sehingga kita harus semakin berhati-hati. Digital itu pisau bermata dua.”

Anda ingin berbagi kisah ditemani secangkir kopi? Hubungi kami di sini.

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Djaka Susila
  • Koran SINDO
    11 kontak
  • SINDOnews
    37 kontak
    1 media request

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert