Telum Talks to... Cristian Rahadiansyah, Pemimpin Redaksi, DestinAsian Indonesia

Telum Talks to... Cristian Rahadiansyah, Pemimpin Redaksi, DestinAsian Indonesia

Saat ini sebagai Pemimpin Redaksi DestinAsian Indonesia, Cristian Rahadiansyah sebelumnya menulis sejumlah buku termasuk trilogi Catatan Emas, yang ia tulis bersama Bajo Winarno (2006 - 2008). Ia juga menulis di Young Southeast Asia (2007) yang dipublikasikan oleh Artpost Asia untuk merayakan ulang tahun ke-40 ASEAN. Kini, setelah lebih dari 10 tahun berkecimpung di bidang jurnalisme travel, Cristian membagikan pengalamannya di industri tersebut, perkembangannya, dan juga tantangannya saat ini.

Esensi travel journalism?
Saya pernah beberapa kali mengisi kelas tentang travel journalism. Saya selalu mengatakan, harus dibedakan antara travel writing dan travel journalism. Travel writing ya seperti blog dan terbebas dari prinsip jurnalistik. Sedangkan, travel journalism itu terikat, sehingga keinginan untuk menceritakan sesuatu yang faktual dan berimbang harus menjadi prioritas. Meski tidak sebergengsi orang-orang yang menulis tentang politik dan ekonomi, tetapi sebenarnya kita juga bisa menggali sesuatu yang luar biasa karena banyak fenomena dunia yang menarik. Banyak hal yang bisa kita tulis. Menariknya travel journalism adalah kita dapat berkunjung ke tempat yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang berbeda, mencari isu yang berbeda, hingga menggali karakter kebudayaan sebuah tempat. Itu sih tugas utamanya.

Apakah jurnalis travel memiliki peran dalam mempromosikan budaya / destinasi wisata lokal?
Ini adalah salah satu alasan mengapa saya mau bekerja di media travel. Kita melihat Indonesia itu memiliki tempat wisata yang sangat banyak. Kita memiliki 13 ribu pulau – 17 ribu kalau air laut sedang surut. Jadi, ada banyak tempat yang menarik, tetapi tidak terpetakan dan tidak dikenal. Saya berharap, media travel dapat membuka mata orang.

Peran tersebut dibutuhkan di banyak di daerah. Nah salah satu contohnya adalah ketika pengalaman saya meliput di Toraja. Dulu, Toraja merupakan ikon resmi pariwisata kedua setelah Bali (versi pemerintah). Tetapi dalam 10-20 tahun terakhir, turis semakin berkurang dan banyak hotel dan restoran yang tutup. Apa yang terjadi? Kenapa sebuah tempat yang begitu eksotis tiba-tiba meredup? Penyebabnya, ya cukup kompleks. Dulu orang Toraja menjual budaya, tetapi kini orang Toraja sudah semakin modern. Dulu, upacara besar dilakukan oleh orang-orang dari kasta tertinggi, tetapi sekarang orang-orang biasa dapat melakukan hal tersebut, sehingga nilai budayanya makin berkurang dan budaya semakin terkikis oleh modernisasi. Tapi siapa yang salah? Karena mereka juga memiliki hak untuk semakin modern. Inilah yang menarik karena budaya itu sangat rentan dan efeknya bisa sampai ke pariwisata. Toraja itu merupakan salah satu contoh bagaimana perubahan itu sulit ditahan.

Semakin sering tempat diekspos, sampah menjadi masalah yang selalu mengikuti. Pandangan Anda terkait dengan masalah ini?
Ini merupakan sebuah dilema klasik. Apakah tiket ke Raja Ampat harus dibuat murah agar makin banyak orang yang ke sana untuk menyelam? Atau justru kita buat makin mahal agar tempatnya tetap terawat? Memang, jawaban paling klise tentang masalah sampah adalah hukum yang ditegakkan. Tapi itu kan klise, karena kenyataanya mau meletakkan tempat sampah sebanyak apapun di pantai, pantainya tetap saja bisa kotor. Contohnya Bali. Meski infrastrukturnya cukup, tetapi malah banyak sekali sampah di pantai sana.

Dilema ini turut kita rasakan ketika kita menceritakan suatu tempat dan tempat itu menjadi populer dan kemudian rusak atau kotor. Jadi sebenarnya siapa yang salah? Apakah media yang menceritakannya? Apakah pelakunya? Ini akan selalu menjadi perdebatan. Menurut saya, semuanya kembali ke masalah edukasi. Kenapa orang Indonesia lebih merasa bebas buang sampah sembarangan di Indonesia, tetapi ketika ke Singapura tiba-tiba lebih disiplin? Apakah karena banyak CCTV atau memang harus dipaksa? Intinya sih, menurut saya semuanya kembali ke edukasi.

Bagaimana tips menulis artikel perjalanan yang bagus?
Pertama, harus tahu dulu mau menulis sebuah blog personal atau karya jurnalistik. Jika untuk blog personal, kita dapat mengumbar preferensi personal kita, sedangkan untuk karya jurnalistik, kita harus menyingkirkan semua personal judgement. Sederhananya, saya belum pernah melihat pantai di seluruh dunia, jadi saya tidak dapat mengatakan pantai A lebih bagus dari pantai B karena penilaian itu akan menyesatkan. Jadi, jika untuk karya jurnalistik ya kita buat saja perbandingan antara dua pantai itu dan melepaskan personal judgement, sehingga menceritakan sesuatu yang berimbang, faktual, dan apa adanya.

Kedua, kita juga harus banyak membaca, banyak referensi sehingga semua itu seharusnya juga membuat penulisan lebih baik. Ketiga, dalam tulisan travel itu yang paling penting sebenarnya adalah menceritakan sesuatu bukan dari sudut pandang kita, melainkan sudut pandang orang sekitar, orang-orang di tempat tersebut. Menceritakan satu tempat dari sudut pandang orang lokal membuat cerita kita menjadi lebih kaya, dibanding sudut pandang kita saja. Kemampuan kita menggali, membuka diri, serta peka terhadap kebudayaan lokal dapat memperkaya tulisan perjalanan.​​​​​​

Liputan paling berkesan?
Liputan berkesan yang pertama yaitu ketika meliput tentang komodo. Waktu itu, saya dan seorang fotografer melakukan investigasi mengenai penurunan populasi komodo. Pemicu investigasi itu sederhana saja: dari zaman saya kuliah hingga zaman kerja, populasi komodo masih tetap. Akhirnya kami jadi penasaran dan melakukan investigasi.

Kami menyewa perahu, terombang-ambing di laut, hingga pengalaman dikejar komodo. Saat itu ada dua-tiga ekor yang mengejar sehingga saya dan fotografer lari. Saya juga baru tahu kalau komodo itu larinya cepat dan bahwa komodo bukanlah solo hunter. Jadi,  ketika ada satu komodo yang mengejar, ada komodo lainnya yang diam-diam mengincar di belakang. Dari investigasi itu, kami juga melihat secara langsung kondisi para penjaga di sana, bagaimana senapan para penjaga banyak yang sudah karatan. Jadi itu merupakan sebuah pengalaman yang menarik, karena kami dapat melihat realita di balik tempat yang saat itu dipuji-puji keindahannya.

Destinasi favorit Anda?
Untuk lokal, karena saya suka menyelam, saya rasa Raja Ampat masih yang terbaik. Dari semua pengalaman, diving di sana merupakan yang paling bagus. Raja Ampat itu terasa ancient dan semuanya terasa lebih besar. Alam bawah lautnya seperti peradaban terpisah sendiri dan tertinggal beberapa abad dibanding wilayah Indonesia lainnya.

Untuk destinasi internasional, mungkin Jepang. Tokyo selalu menarik, meski kota yang sangat padat dan semua orang seperti dikejar-kejar utang, makanan serta keramahannya luar biasa. Keramahan yang bahkan terkadang terasa tidak masuk akal! Saya beberapa kali sempat bertanya jalan, selalu ujungnya dianterin, sehingga jadi merasa tidak enak. Mereka terlihat selalu terburu-buru, tetapi ketika ada yang membutuhkan, mereka mau membantu dan terlihat tulus. Selain itu, saya juga merasa aman.

Pandangan terhadap dunia turisme Indonesia?
Menurut saya sih turisnya terlalu terkonsentrasi di situ-situ saja. Pemerintah memang sempat membuat sepuluh destinasi unggulan di luar Bali, tetapi belum kelihatan hasilnya. Belum lama ini, saya mewawancarai Lawrence Blair (penulis Ring of Fire). Pendapat dia ada yang menarik. Menurutnya, destinasi tidak dapat diciptakan, kalau kita melihat sejarah tempat-tempat yang sekarang populer sebagai magnet wisata Indonesia, semuanya itu tumbuh secara organik. Masyarakatnya memiliki jiwa servis dan terbuka terhadap pendatang.

Pemerintah kurang bersinergi dengan masyarakat lokal. Seharusnya mereka lebih berkomunikasi dengan masyarakat lokal, apakah mereka mau tempat mereka menjadi destinasi wisata atau tidak. Karena pada akhirnya sebagus apapun suatu tempat, jika warganya tidak mau terbuka terhadap pendatang, ya pariwisatanya tidak akan jalan.

Bedanya jurnalisme travel dulu dan sekarang?
Dulu, media travel dan panduan menjadi referensi tunggal, tidak ada alternatif lain untuk mendapatkan informasi. Beda dengan sekarang, saat ini pesaingnya banyak sekali. Hubungan personal dan status media sebagai referensi utama sudah bergeser jauh.

Dengan semakin banyak sumber informasi di zaman sekarang, tantangan bagi kita adalah menyajikan sesuatu yang benar-benar hanya mampu disampaikan oleh jurnalis. Misalnya ya reportase maupun investigasi. Itu adalah hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh penulis buku panduan. Saya rasa perubahan ini ada bagusnya karena dengan banyaknya sumber informasi, kita juga dipaksa untuk menjadi lebih tajam saat menulis atau mencari isu, juga lebih kreatif ketika memilih tempat yang ingin ditampilkan.

Saat ini segmennya juga lebih beragam. Traveller zaman dulu hanya satu macam, sedangkan sekarang lebih beragam. Ada orang-orang yang hanya menginginkan visual dan cenderung mencari tempat-tempat yang Instagrammable. Sedangkan, ada pula orang-orang yang menghindari keramaian itu dan ingin liburan yang benar-benar melepaskan diri dari kesibukannya.

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Cristian Rahadiansyah
  • DestinAsian Indonesia
    3 kontak

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert