Perempuan di Dunia Jurnalistik

Perempuan di Dunia Jurnalistik

"Keuntungan menjadi Jurnalis perempuan?"
"Keuntungan? apakah ada? tunjukkan jika ada," ujar Evi Mariani.


Di dunia jurnalistik yang didominasi oleh pria, banyak tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan untuk bertahan. Jadi, untuk merayakan Hari Kartini di bulan April ini, kami berbicara dengan beberapa jurnalis perempuan yang inspiratif tentang perempuan di dunia jurnalistik.

Selalu ada rasa yang berkesan di bulan April bagi orang-orang Indonesia, khususnya ketika anak-anak sekolah mengenakan kebaya atau kostum tradisional lainnya, untuk merayakan pahlawan di bidang pemberdayaan perempuan bernama Raden Ajeng Kartini, pada 21 April.

Kartini dianggap sebagai pencetus hak perempuan dan surat-suratnya kepada temannya di Belanda, dianggap sebagai awal kebangkitan pergerakan emansipasi perempuan di Indonesia, pergerakan yang masih terus diperjuangkan di negara ini.

Setelah lebih dari satu abad sejak Kartini meninggalkan jejaknya di sejarah Indonesia, negara ini masih menghadapi tantangan berat di bidang emansipasi wanita maupun kesetaraan gender. Media harusnya bisa menjadi salah satu pendorong hal ini, tapi sayangnya masih banyak media yang bias terhadap isu-isu gender.

"Mayoritas media mainstream masih memperlakukan perempuan sebagai objek seksual atau sebagai barang," ujar Pimpinan Redaksi Magdalene.co, Devi Asmarani. "Misalnya, ketika mengangkat politisi perempuan, liputan yang muncul bukan tentang pencapaian mereka, namun ada beberapa yang malah membuat berita seperti: “Inilah lima sosok politisi tercantik di Indonesia”. Pertanyaan lain yang sering ditujukan: “Apakah punya waktu mengasuh anak?”. You don’t do this to male politicians!"

"Bahkan perempuan yang menjadi mayat pun masih diseksualisasikan. Misalnya, dalam berita pemerkosaan dan pembunuhan, sering kali judul beritanya adalah: “Mayat perempuan cantik ditemukan di got”. Seakan-akan, kecantikan merupakan penyebab ia diperkosa dan dibunuh."

Tantangan
Hal itu bukan satu-satunya masalah. Di ruang redaksi, kesetaraan gender masih menjadi perdebatan di dunia pekerjaan yang didominasi oleh pria, serta adanya budaya yang merugikan perempuan, khususnya tradisi jam kerja yang panjang dan tidak menentu di dunia jurnalistik.

"Perempuan di dunia jurnalistik, seperti perempuan di mana-mana, menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan pria," ujar Evi Mariani dari The Jakarta Post.

"Di dunia jurnalistik, banyak dari kami yang menghadapi pelecehan dari narasumber atau bahkan sesama rekan jurnalis. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi, tantangan terbesar yakni membagi waktu antara keluarga dan karier. khususnya setelah saya melahirkan anak saya pada 2013. ketika seorang jurnalis perempuan memutuskan untuk memiliki anak, kariernya akan terganggu untuk waktu yang cukup lama. hal ini tidak dialami oleh para pria."
​​​​
Senada dengan Evi, sulitnya membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, turut disinggung oleh jurnalis perempuan lainnya, Desi Fitriani, sebagai tantangan terbesar jurnalis perempuan.

"Ada banyak jurnalis perempuandi sini, tetapi biasanya ketika mereka menikah, banyak di antara mereka yang memutuskan untuk mengundurkan diri atau mencari pekerjaan lain," ujar Produser Eksekutif Metro TV tersebut. "Jam kerja yang tak pasti dan tidak dapat ditebak memaksa jurnalis perempuan harus memilih antara pekerjaan dan keluarga."

Selain masalah keluarga, masih ada banyak tantangangan lain yang harus diharapi jurnalis perempuan di rutinitas mereka sehari-hari. salah satunya adalah pelecehan seksual.

"Saat ini perempuan lebih kritis dan berani berbicara, di mana itu merupakan sebuah hal yang bagus, karena jurnalis perempuan memiliki dua tantangan. Pertama, kadang jurnalis perempuan dianggap remeh oleh narasumber atau bahkan koleganya sendiri. Yang kedua, jurnalis perempuan juga berisiko menjadi korban kekerasan serta pelecehan seksual, di mana saya pun pernah mengalaminya," tambah Devi.

"Namun, sekarang 'kan sudah banyak organisasi yang menyokong perempuan sehingga bisa melapor jika menjadi korban. Selain itu, jangan pernah merasa keperempuanan serta gender kita, membatasi gerak kita."

"Jika mereka mampu melakukannya, maka saya dapat melakukannya"
Meski adanya tantangan-tantangan tersebut, bukan berarti tidak ada jurnalis perempuan yang mampu berada di atas. Dari 20 besar media terbesar di Indonesia (berdasarkan jumlah visitor online), ada tiga media yang dipimpin oleh jurnalis perempuan.

Iin Yumiyanti memimpin Detik.com, sedangkan Zulfiani Lubis dan Yoko Sari mengepalai tim editorial IDN Times dan CNNIndonesia.com. Selain di dunia online, ada juga jurnalis-jurnalis perempuan berprestasi lainnya seperti Najwa Shihab dengan program Mata Najwa-nya, Rosiana Silalahi di Kompas TV, Desi Anwar dari CNN Indonesia TV, Ninuk Pambudi dari KOMPAS, Hermien Y. Kleden dari TEMPO, dan masih banyak lagi.

Jadi bagaimana mereka melakukannya? bagaimana mereka mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan membuktikan bahwa jurnalisme - atau apapun juga - tidak harus dibatasi oleh gender?

"Beberapa kali saya pernah mendapat perlakuan berbeda, terutama secara verbal. Misalnya, ngapain sih itu perempuan ikutan liputan begini, atau kadang “dipaksa” mundur secara fisik saat berdesakan untuk doorstop, " ujar Pimpinan Redaksi Rumah123.com, Vriana Indriasari.

"Cara mengatasinya? Hahahaha..ya saya pantang menyerah. Semakin diremehkan, semakin besar semangat saya untuk menunjukkan dia salah. Sampai saat ini, saya pegang teguh prinsip kalau dia bisa, saya juga pasti bisa, dan itu berhasil!"

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Evi Mariani Sofian
  • Vriana Indriasari
  • Desi Fitriani
  • Devi Asmarani
  • Telum Media
    7 kontak
    8 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert