Telum Talks To... Irma Garnesia, Peneliti, Tirto.id

Telum Talks To... Irma Garnesia, Peneliti, Tirto.id

Irma Garnesia adalah peneliti muda yang kini mewakili Tirto.id membantu Facebook melakukan cek fakta untuk media sosial tersebut. Irma berbagi kepada Telum mengenai perannya sebagai peneliti di media dan pentingnya peran tersebut di redaksi.

Ceritakan sedikit tentang Anda dan apa yang Anda lakukan sebagai Peneliti?
Saya Irma Garnesia, seorang Peneliti di Tirto.id sejak 2018. Sebagai Peneliti, saya menangani berita jurnalisme data tentang politik, ekonomi, kebijakan publik, dan masalah sosial. Pada tahun 2019, saya ditunjuk untuk melakukan pengecekan fakta dan mewakili Tirto.id sebagai pemeriksa fakta pihak ketiga di Facebook. Peran ini mengharuskan saya untuk mengekspos kebohongan dari serangan konten viral yang dipertanyakan, artikel berita palsu, rumor dan klaim yang tidak terverifikasi lainnya. Selain bekerja, saya juga mengorganisasikan pertemuan bulanan di Journocoders Indonesia, sebuah komunitas daring yang menyediakan lokakarya bagi jurnalis dan data enthusiasts di Jakarta, Indonesia. Dalam komunitas ini, saya juga memberikan pelatihan jurnalisme data ke beberapa kota di Indonesia.

Mengapa peran peneliti penting di dalam sebuah media? Apakah pekerjaan peneliti di media berbeda dengan menjadi jurnalis pada umumnya?
Peran peneliti jadi penting di media sebagai cara membuktikan kredibilitas dapur media. Sebab peneliti tentu bertugas mengolah data, analisis, visualisasi, hingga memastikan akuntabilitas data yang digunakan dalam liputan. Pekerjaan sebagai peneliti di media sedikit berbeda dengan pekerjaan jurnalis atau peneliti yang khusus di pendidikan. Menjadi peneliti di media sendiri seperti terbagi di antara dua hal; jadi jurnalis atau jadi peneliti. Misal, peneliti menerapkan konsep umum riset, metodologi dalam pengolahan data, dan analisis mendalam, namun bagi kami keterampilan sebagai jurnalis juga diperlukan, seperti verifikasi sumber dan pengetahuan terkait masalah terkini.

Apa saja keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang peneliti di media saat ini?
Keterampilan menulis, pengetahuan dasar metode riset dan penelitian, ilmu seputar mencari dan membandingkan kredibilitas data. Tentunya akan menjadi nilai plus apabila Anda bisa mengolah data melalui Spreadsheet dan mengetahui berbagai tools yang digunakan untuk visualisasi data, seperti misalnya Tableau, Flourish, dan Google Earth Pro.

Apakah tantangan yang dialami oleh peneliti di media di Indonesia?
Belum banyak media di Indonesia yang mengkhususkan peran peneliti di tim redaksi mereka. Hal ini membuat ruang gerak untuk mengembangkan karir sebagai peneliti cukup terbatas. Beberapa media juga menempatkan peneliti hanya di dapur hanya sebagai penunjang tim redaksi. Mereka tidak diberi ruang untuk mengembangkan dan mengolah data yang mereka punya menjadi sajian tulisan atau bahkan tontonan berbasis data yang enak untuk dinikmati, misalnya. 

Trend media 2020 di Indonesia? Apakah berita yang kemungkinan akan menjadi besar di tahun ini?
Menurut saya, setelah tahun politik di 2019, tidak ada berita yang begitu besar di tahun ini, kecuali Pilkada. Saya pikir yang masif bukan sekadar series of events, melainkan cara membicarakan berita tersebut. Misal, kasus pelecehan seksual yang dilakukan orang Indonesia di Inggris. Yang menjadi sorotan bukan hanya kasusnya, tapi juga cara media mengemasnya dan beragam cara orang mengonsumsi isu tersebut. Platform media sosial seperti Twitter dan Facebook masih akan menjadi jadi tempat yang empuk untuk membicarakan masalah-masalah tersebut.

Anda sering memberikan pelatihan jurnalisme data di berbagai daerah di Indonesia. Dari pengamatan Anda, adakah yang perlu ditingkatkan dari industri media di Indonesia?
Sangat baik apabila media bisa memberi ruang bagi pengembangan jurnalisme data, tidak hanya di media nasional, tapi juga media di daerah. Berdasarkan lokakarya yang saya berikan dengan Journocoders, ternyata cukup banyak jurnalis yang berminat mengembangkan jurnalisme data dan belajar dasar penyajian reportase dengan data. Liputan berbasis data dapat menjadi alternatif yang dapat diberikan media kepada jurnalis.

Apa yang perlu dimiliki oleh pemula yang ingin belajar seputar jurnalisme data?
Sangat mendasar sebenarnya. Yang paling utama pastinya kemauan belajar dan banyak latihan, karena jurnalisme data sendiri menerapkan praktik dan analisis yang berbeda dalam tiap proyek liputan atau investigasi. Saya juga masih banyak belajar mengembangkan analisis dan membuat visualisasi yang menarik.

Kisah yang paling menarik yang pernah Anda bahas?
Liputan mendalam tentang satu tahun Bencana Palu. Waktu itu, saya turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data dan mengira-ngira, visualisasi seperti apa yang bisa dikerjakan dari Palu. Selain berurusan dengan sulitnya konfirmasi data dari pemerintah, saya juga mengecek data dari LSM yang cocok untuk divisualisasikan. Yang menarik waktu itu adalah memetakan keluhan masyarakat di beberapa Hunian Sementara (Huntara) di Palu, Sigi, dan Donggala, serta memetakan lokasi Huntara yang dibangun pemerintah serta kerawanannya terhadap bencana. Hasilnya dapat dibaca di sini.

Apakah akan ada gebrakan baru dari Tirto.id di tahun ini?
Tahun ini kami melanjutkan apa yang telah dikerjakan pada tahun-tahun sebelumnya: tulisan data, fact-checking initiative, dan video data. Kami juga akan memprioritaskan proyek-proyek kolaborasi.

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Irma Garnesia
  • Tirto.id
    43 kontak

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert