Telum vox pop: 5 hal yang perlu diketahui tentang jurnalisme penyiaran

Telum vox pop: 5 hal yang perlu diketahui tentang jurnalisme penyiaran

Telum Media berbincang dengan jurnalis radio dan televisi di Indonesia untuk mendiskusikan peran mereka. Temukan pendapat mereka terkait 5 hal yang perlu diketahui tentang jurnalisme penyiaran.

Danang Sundoro, Sports Editor, RRI (Radio Republik Indonesia)
1. Berpeluang pergi ke luar negeri
Hampir setiap tahun berpeluang ke luar negeri saat bekerja di sektor olahraga. Kejuaraan olahraga banyak sekali yang diselenggarakan di luar negeri.

2. Multiplatform
Radio sekarang ini tidak lagi hanya berbicara di depan mikrofon. Saat ini kami dituntut untuk dapat beroperasi secara multiplatform. Kami punya RRI.co.id, RRIplay Go, dan Pro3 siniar.

3. Jam kerja
Jam kerja i RRI bisa sampai 7,5 jam dengan siaran efektif 4 sampai 5 jam. Broadcast itu dunia seni. Berat atau tidak pekerjaannya tergantung bagaimana masing-masing orang.

4. Banyak peran
Peran saya di RRI tidak murni duduk di kantor. Terkadang saya bekerja sebagai Reporter saat berada di lapangan, Editor saat di depan laptop, Kepala Desk saat bertanggung jawab dalam suatu program acara di RRI, dan sebagai Presenter di Pro3 Siniar.

5. Mengisi suara
Terkadang saya juga menjadi Dubber untuk iklan suara di RRI, tergantung konten dan kebutuhannya.

Harfin Naqsyabandy, News Producer, SCTV
1. Gaji
Dianggap bekerja sebagai Broadcast Journalist gajinya besar. Namun ternyata tidak seindah kata orang. Gaji besar itu tergantung prestasi dan skill.

2. Resiko besar
Wartawan TV itu resikonya besar, apalagi yang berada di lapangan. Dia tidak cuma bawa badan, tapi alat. Dia harus buat liputan yang berkualitas dengan bawaan alat yang besar dan bernilai. Tanggung jawabnya besar terhadap hasil liputan dan keamanan alat. 

3. Jam kerja
Jam kerja tidak bisa diperhitungkan, terutama yang bekerja di lapangan. Menjadi jurnalis TV itu mengejar momen dan suasana. Harus siap datang pagi dan malam, bisa kerja 24 jam tanpa libur.

4. Jenjang karier menjanjikan
Dari Reporter bisa bertahap menjadi Asisten Produser, kemudian Produser, lalu Eksekutif Produser. Lama atau tidak tergantung medianya.

5. Visual
Dalam dunia broadcast jurnalis di televisi, kami berlomba-lomba untuk mendapatkan visual yang berbeda. Kami harus berusaha untuk mendapatkan visual yang menarik agar bisa dinikmati pemirsa. Kami harus pandai menganalisa suatu kejadian.

Wella Andany, Documentary, and Investigative Reporter, Kompas TV
1. Pentingnya visual
Gambar atau rekaman liputan menjadi suatu hal yang sangat penting di media televisi. Kalau tidak dapat gambar, kami harus memikirkan ilustrasi yang sesuai sebagai penggantinya. 

2. Proses produksi yang panjang
Saya lebih banyak membuat cerita dokumenter. Setelah mendapatkan gambar liputan, kami membuat trasnkripsi, memisahkan gambar dan suara, lalu memilih bahan liputan yang dapat ditayangkan. 

3. Satu pekan
Orang berpikir pekerjaan kami simpel, tapi sebetulnya bisa membutuhkan waktu hingga satu pekan untuk membuat satu cerita dokumenter.

4. Jenjang karier di TV lebih luas
Bisa jadi Presenter, Produser, hingga Podcaster. Masing-masing posisi membutuhkan pengalaman selama kurang lebih dua sampai tiga tahun.

5. Eksplorasi bahan
Di media online, biasanya jurnalis bisa membuat tulisan panjang dengan detail. Kalau di Televisi, kami lebih mencari cara untuk dapat menampilkan visual yang menarik. Karena kalau terlalu banyak menampilkan data bisa membosankan.

More stories


basis data Media Telum

  • Harfin Naqsyabandy
  • Danang Sundoro
  • Wella Andany
  • Telum Media
    1 contacts
    115 media requests
  • Kompas TV
    15 contacts
    4 media requests
  • SCTV
    35 contacts
  • RRI (Radio Republik Indonesia)
    13 contacts
    1 media request

Get in touch to hear more

Request demo

Telum alerts

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Subscribe for alerts