Peralihan pemberitaan media di Indonesia terkait COVID-19

Peralihan pemberitaan media di Indonesia terkait COVID-19

Dengan jutaan penduduk Indonesia yang mengandalkan media untuk mendapatkan informasi seputar COVID-19, kami mewawancarai tiga jurnalis bagaimana reportase tentang COVID-19 telah berkembang.

Saat COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan pada Desember 2019, media di Indonesia berjuang untuk meliput berita ini. Tujuannya adalah untuk melaporkan peristiwa tanpa menciptakan kepanikan.

''Kami pertama kali mempublikasikan berita ini saat virus itu masih bernama Wuhan virus pada awal tahun ini,'' kata Ahmad Nurhasim, Editor Sains dan Kesehatan dari The Conversation (Indonesia).

The Conversation mempublikasikan berita yang ditulis dari para akademisi dan komunitas ilmiah. Tak heran mengapa banyak orang Indonesia yang beralih membaca The Conversation (Indonesia) untuk mendapatkan informasi. Jumlah pengunjung situs ini naik tajam.

Pada 2019, situs The Conversation (Indonesia) dikunjungi 200,000 orang per bulan. ''Sejauh ini di tahun 2020, kami telah mendapatkan rata-rata 800,000 pengunjung situs per bulan,'' kata Ahmad.

Artikel tentang COVID-19 - yang bisa direpublikasi oleh media lain menggunakan lisensi creative commons - telah menjangkau setidaknya delapan juta pembaca.

Kenaikan jumlah pembaca bukan berarti The Conversation (Indonesia) akan mendapatkan peningkatan pendapatan dari iklan, mengingat media ini tidak mencari keuntungan.

''Setelah virus ini menyebar ke banyak negara, kami mulai mempublikasikan artikelnya dari sudut pandang yang berbeda. Tidak hanya dari perspektif kesehatan masyarakat atau pandemik saja, para penulis menuliskan komunikasi risiko bahkan sejarah pandemik,'' katanya.

Artikel juga membahas tentang industri bisnis yang terdampak parah karena COVID-19, misalnya maskapai penerbangan dan perhotelan. Topik artikel juga bervariasi, mulai dari kepemimpinan, kebijakan publik sampai keputusan politik yang diambil selama COVID-19. Pitches dari para akademisi meningkat empat kali, kata Ahmad.

Media lainnya, Liputan6.com juga mendapati peningkatan jumlah pembaca untuk artikel seputar COVID-19. Fitri Haryanti Harsono, seorang Jurnalis Kesehatan di media tersebut, menjelaskan bahwa satu artikel bahkan bisa mendapatkan 500,000 pembaca.

''Artikel mengenai masker wajah bekas yang dijual kembali adalah salah satu artikel terpopuler di situs Liputan6.com. Pembaca juga ingin tahu mengenai pengobatan dan vaksin, mereka ingin tahu tentang pengobatan misalnya klorokuin, hydroxychloroquine dan favipiravir,’’ katanya.

Fitri menjelaskan, desk kesehatan di Liputan6.com telah mengurangi frekuensi tulisan lain di bidang kesehatan, misalnya saja kesehatan seksual, karena fokus media itu sekarang adalah pandemik.

''Biasanya, artikel tentang kesehatan seksual dipublikasikan setelah jam 9 malam,'' jelasnya, agar anak-anak tidak membaca konten untuk orang dewasa.

Berita positif
Meliput COVID-19 penuh dengan tantangan karena kebanyakan berita yang disajikan merupakan berita yang tidak mengenakkan - meningkatnya jumlah kematian, kurangnya alat pelindung diri untuk para tenaga kesehatan dan orang-orang yang kehilangan pekerjaannya karena pandemik.

Fitri menjelaskan ia dan timnya berhati-hati agar tidak menggunakan kata sifat saat menulis dan menerjemahkan artikel mengenai COVID-19.

''Kami tidak menggunakan kata-kata semacam penyakit mematikan ketika menerjemahkan berita dari kantor berita asing karena nadanya dalam bahasa Indonesia bisa menciptakan kepanikan,'' katanya, sembari menjelaskan bahwa Liputan6.com juga menuliskan artikel mengenai pentingnya solidaritas untuk para tenaga kesehatan.

''Kami melihat bahwa pembaca makin tertarik dengan artikel yang memiliki nada positif, artikel yang dapat menggugah harapan misalnya kapan pandemik berakhir dan juga berita perkembangan vaksin,'' kata Uyung Pramudiarja, Redaktur Pelaksana untuk desk kesehatan di Detik.com.

Ia juga menjelaskan artikel human interest dari para kontributor Detik.com dari berbagai kota di Indonesia juga diminati pembaca. Salah satu contohnya adalah rapid testing gratis yang diadakan pemerintah kabupaten Luwu Timur di provinsi Sulawesi Selatan.

''Kami mencoba seimbang. Mempublikasikan artikel yang menggugah harapan boleh saja, tapi para wartawan juga memiliki tugas untuk memberitakan kepada publik,'' katanya.

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Ahmad Nurhasim
  • Fitri Haryanti Harsono Saidil Anwar
  • Uyung Pramudiarja
  • Telum Media
    5 kontak
    8 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert