Telum Talks To... Aloysius B Kurniawan, Editor of KOMPAS

Telum Talks To... Aloysius B Kurniawan, Editor of KOMPAS

Dalam situasi pandemik saat ini, Telum berbicara dengan Aloysius B Kunirawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Ketenagakerjaan AJI, untuk membicarakan realita baru yang dapat mengubah industri media.

Hi Aloysius, terima kasih telah meluangkan waktunya. Apakah pekerjaan Anda terganggu karena pandemi COVID-19?
Ya, sangat terganggu sekali. Pandemi Covid-19 menghantam seluruh sendi kehidupan secara global, termasuk sektor media. Sebulan terakhir, praktis aktivitas kerja saya berubah total. Pembatasan sosial yang akibat pandemi memaksa saya untuk membiasakan diri bekerja dari rumah. Ini benar-benar sebuah ritme kerja yang tidak pernah saya alami selama 13 tahun bekerja sebagai seorang jurnalis.

Ceritakan sedikit tentang bagaimana tim Anda saat ini bekerja...
Sebagai editor, dalam satu minggu (enam hari kerja), empat hari saya bekerja di rumah, dan dua hari sisanya di kantor karena harus bergantian piket dengan editor lain. Khusus reporter yang biasanya di lapangan, mereka diberi kekeluasaan penuh bekerja dari rumah.

Apabila situasi semakin tidak kondusif, kami telah menyiapkan strategi untuk bekerja full dari rumah. Untuk saat ini, editor masih sesekali bekerja dari kantor karena persoalan teknis editing memastikan semua proses editing dan pra cetak (untuk edisi koran) berjalan lancar. Tapi, pada prinsipnya, semua pekerjaan bisa diremote dari rumah.

Berdasarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, termasuk kawasan sekitarnya yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, industri komunikasi dan media termasuk dalam sektor pekerjaan yang masih diijinkan beroperasi. Ini penting karena media menjadi kanal informasi dan sosialisasi strategis bagi masyarakat dalam penanganan pandemi Covid-19.

Apakah ada kekhawatiran terhadap kesejahteraan pekerja media? 
Kekhawatiran ini tentu ada. Tapi, puji syukur sampai hari ini saya masih menerima gaji take home pay  secara full dari perusahaan. Kami tentu berharap pandemi COVID-19 bisa segera berakhir karena dampaknya sangat luar biasa bagi sektor industri media, terutama dengan penurunan iklan.

Di antara media cetak, online, TV, dan Radio, manakah yang paling terdampak pandemi COVID-19?
Saya tidak bisa mengukur mana sektor media yang terdampak paling parah karena belum ada survei khusus terkait ini. Tapi yang jelas, semua sektor media mengalami pukulan yang luar biasa. Khusus untuk media cetak tidak hanya penurunan sektor iklan saja yang terjadi, tetapi juga melonjaknya harga bahan baku kertas koran yang harus diimpor dari luar negeri. Kita semua tahu, pandemi ini mengakibatkan terpuruknya kurs Rupiah. 





















Situasi pandemik saat ini membuat aktivitas di luar menjadi terbatas. (Dok.pribadi / Aloysius B Kurniawan)

Media di indonesia tak terbiasa memberikan pelatihan peliputan bencana, menurut Anda apakah COVID-19 akan memicu kuantitas (dan kualitas) pelatihan seperti ini?
Di perusahaan kami, pelatihan peliputan bencana beberapa kali sempat digelar. Tapi, bencana pandemi yang tak pernah terbayangkan seperti ini benar-benar di luar perkiraan kami. Satu kasus yang hampir mirip dengan pandemi COVID-19, adalah wabah flu babi dan flu burung yang terjadi beberapa tahun lalu meskipun skalanya jauh lebih kecil.

Begitu muncul kasus COVID-19, perusahaan langsung menyusun SOP dan protokol khusus penanganan COVID-19. Beberapa langkah yang dilakukan adalah melakukan penyemprotan disinfektan di kantor, penghentian penugasan ke luar negeri dan ke luar kota, serta penerapan kebijakan kerja dari rumah. Rekan jurnalis yang sempat bersinggungan atau wawancara dengan pasien langsung menjalani tes di Rumah Sakit dan untungnya hasilnya negatif.

Untuk menjaga stamina karyawan, perusahaan memberikan suplemen vitamin. Khusus jurnalis dan editor yang sesekali bekerja di lapangan disediakan pula vaksinasi influenza.  Perangkat pokok keamanan seperti masker dan cairan disinfektan disediakan juga oleh perusahaan.

Apakah media-media di Indonesia telah memberikan perlindungan yang cukup bagi para jurnalis yang harus terjun ke lapangan? Apa yang dapat lebih ditingkatkan lagi?
Berdasarkan pengamatan saya selama aktif di kepengurusan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, tidak banyak media di Indonesia yang memberikan perlindungan cukup bagi jurnalisnya saat bekerja di lapangan. Rekan-rekan jurnalis yang rentan bekerja di lapangan terutama mereka yang statusnya bukan karyawan organik atau kontributor / koresponden. Selain tak dilengkapi dengan perangkat perlindungan diri, mereka juga hanya mengandalkan pemasukan dari berita / foto / video yang naik tayang. Ini fenomena memprihatinkan yang terjadi bertahun-tahun sebelum pandemi ini muncul.

Di perusahaan tempat saya bekerja, seluruh karyawan berstatus organik / tetap sehingga setiap bulan mereka mendapatkan gaji tetap. Tapi, di perusahaan-perusahaan media lainnya masih banyak ditemukan pola kerja seperti di atas.
 
Sebagai seorang Jurnalis, apa yang dapat Anda pelajari dari situasi saat ini?
Saya kira pandemi ini menciptakan sejarah baru di dunia pers dunia. Slogan-slogan klasik bahwa jurnalis adalah pekerjaan “kaki”, pekerjaan yang harus dilakukan di lapangan, tiba-tiba dijungkirbalikkan oleh COVID-19. Sebaliknya, sekarang para jurnalis justru harus bekerja dari rumah dalam menyusun laporan-laporan jurnalistiknya.

Ini adalah tantangan baru yang mengharuskan jurnalis bisa memanfaatkan kekuatan jaringan, menajamkan analisa dengan data-data dan berbagai referensi, serta terus memutar otak di tengah keterbatasan ruang kerja.

Tapi, dari semuanya itu, satu prinsip utama jurnalistik yang tidak berubah adalah: verifikasi, verifikasi, dan verifikasi. Dalam situasi bekerja dari rumah, kewajiban dasar jurnalis melakukan verifikasi adalah mutlak dan tetap harus dijalankan.

Menurut Anda, apakah setelah pandemi berakhir akan muncul perubahan cara kerja industri media?
Saya meyakini akan muncul pola tata kerja baru di industri media. Pandemi memaksa media untuk mempercepat adapatasi mereka dengan perkembangan teknologi informasi terbaru. Konferensi-konferensi pers yang selama ini digelar offline akhirnya dilakukan dalam jaringan (daring), rapat-rapat bersama yang biasanya dilakukan dalam perjumpaan langsung kini dilangsungkan secara online, juga berbagai macam produk jurnalistik kini ditampilkan secara online.

Situasi krisis ini juga otomatis akan menjadi penyaring alami media-media yang belakangan tumbuh massif di Indonesia. Hanya media yang mengedepankan kredibilitas, independensi, dan informasi terpercayalah yang masih akan ditunggu publik. Media yang bisa melalui pandemi COVID-19, kemungkinan besar akan tetap survive ke depan.

---

Kerja dari rumah? Telum tetap membantu Anda mendapatkan informasi terbaru dari industri media. Apabila Anda memiliki kabar yang ingin disampaikan, mulai dari perpindahan kerja, promosi, mencari peluang baru, dan lainnya, hubungi kami di indonesiaalert@telummedia.com. Jaga kesehatan selalu!

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Aloysius B Kurniawan
  • KOMPAS
    6 kontak

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert