Telum Talks To… Christine Franciska, Redaktur Pelaksana, Glance

Telum Talks To… Christine Franciska, Redaktur Pelaksana, Glance

Kali ini Telum berbincang dengan Redaktur Pelaksana Glance, Christine Franciska, yang sempat mengikuti program fellowship Reuters Institute di Universitas Oxford. Tempatnya bekerja, Glance, adalah aplikasi news aggregator pra-instal di smartphone Android.

Boleh tolong diceritakan apa itu Glance dan bagaimana cara mengaksesnya?
Glance adalah platform konten agregator berita di layar kunci yang saat ini tersedia di beberapa jenis ponsel Android. Platform ini bukanlah aplikasi yang bisa diunduh melalui Google Play Store melainkan sudah pra-instal. Kami berharap layanan ini bisa menjangkau siapa pun yang menginginkan kemudahan dalam mengakses informasi dan tren populer melalui ponsel Android mereka.

Ada lumayan banyak news aggregator di Indonesia. Apa yang membedakan Glance dengan lainnya?
Keunggulan yang paling utama adalah mediumnya yang ada di layar kunci. Jadi sebelum pengguna mengakses aplikasi di home screen, mereka sudah mengkonsumsi informasi lewat Glance terlebih dahulu. Jika bosan membaca dan menonton berita, Glance juga menawarkan gim-gim kasual.

Berita seperti apa yang paling populer di Glance?
Berita-berita yang populer biasanya memang beragam sesuai apa yang terjadi saat itu. Tenggelamnya KRI Nanggala dan medali emas Olimpiade yang diraih Greysia Polii / Apriyani Rahayu menjadi beberapa di antaranya. Namun uniknya, karena medium penyampaian berita Glance adalah wallpaper di layar kunci yang mengedepankan visual yang menarik, berita-berita teknologi, edukasi, jalan-jalan, dan makanan juga sangat diminati. Pasalnya, konten-konten semacam ini punya gambar yang sangat indah - yang memang cocok untuk hadir di layar kunci.

Bagaimana tim editorial bekerja? Secara spesifik, apakah tim ikut liputan dan mengolah rilis pers atau murni agregasi saja?
Kebanyakan agregasi berita. Saat ini tim editorial Glance tidak mengolah rilis pers, tetapi kami mungkin membutuhkan material foto-foto terkait rilis pers tersebut. Kontak kami terutama untuk konten mengenai hiburan, jalan-jalan, otomotif dan kuliner. Ketika para profesional di bidang komunikasi menghubungi tim editorial, mungkin bisa diawali dengan mengirim email perkenalan terlebih dahulu, jika ada beberapa permintaan rilis, foto atau wawancara pasti kami hubungi.

Anda sempat mengikuti program fellowship dari Reuters Institute di Universitas Oxford. Apa saja yang Anda pelajari selama enam bulan di Inggris?
Jujur waktu diumumkan bahwa saya terpilih jadi salah satu fellow, saya cukup terkejut karena minat dan proposal riset saya bukan termasuk isu-isu jurnalisme yang dianggap seksi bagi kebanyakan orang. Riset saya berfokus pada distribusi berita di ponsel Android di Asia, terutama dalam medium layar kunci. Namun ternyata itulah yang membuat proposal saya dilirik: belum banyak kajian dan tulisan yang fokus pada distribusi berita di ponsel terutama di Asia. Saat ini riset-riset yang ada memang lebih banyak berpusat di Amerika dan Eropa. 

Program fellowship ini menurut saya sangat berguna untuk wartawan yang ingin membuka wawasannya tentang perkembangan industri media global. Terkadang sebagai wartawan, kita fokus mengejar berita tetapi lupa bahwa teknologi dan industri media sudah berkembang cepat. 

Karena fellow yang ikut dalam program ini berasal dari berbagai negara, saya juga belajar banyak tentang bagaimana jurnalisme bekerja di negara-negara lain. Peserta fellow mencari solusi dan contoh-contoh terbaik bagaimana menjawab masalah itu. Sebelum ikut fellowship saya agak pesimis dengan masa depan jurnalisme, tapi setelah menjalani program, saya merasa optimistis dan lebih bersemangat karena melihat komunitas jurnalisme global ternyata kuat dan kita bisa saling mendukung.

Bagaimana strategi agar wartawan Indonesia lain bisa tembus mengikuti fellowship yang sama?
Permasalahan di industri media memang banyak dan kadang disebabkan oleh faktor eksternal yang di luar kendali, misalnya perkembangan teknologi yang terlalu cepat atau kontrol pemerintah terhadap akses informasi dan kebebasan pers. Nah, pada umumnya, Reuters Institute mencari orang-orang yang punya ide-ide segar dan perspektif baru untuk menjawab tantangan-tantangan itu. Jadi ada baiknya, bagi para wartawan yang tertarik mendaftar, untuk memberikan proposal riset yang sifatnya solutif atau paling tidak memberi sudut pandang baru.
 
Lihat konten Telum lainnya:
Apa yang bisa kita pelajari dari Tokyo 2020?
Telum vox pop: Menyambut era baru liputan olahraga di Indonesia
Telum connects: Apa yang membuat materi pers dikatakan ideal?
Telum vox pop: Reaksi jurnalis terhadap peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia
Telum Talks To… Ong Hock Chuan, Partner, Maverick (Indonesia)

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Christine Franciska
  • Glance
    6 kontak
    3 permintaan media

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert