Telum talks to… Aqwam Fiazmi Hanifan, Visual Investigations Producer, Narasi

Telum talks to… Aqwam Fiazmi Hanifan, Visual Investigations Producer, Narasi
Muhammad Arby

Apa itu open-source intelligence (OSINT) dan bagaimana metode ini membantu pekerjaan para jurnalis?

Pekan ini Telum berbincang dengan Visual Investigations Producer dari Narasi, Aqwam Fiazmi Hanifan, mengenai open-source intelligence (OSINT). Salah satu karya jurnalistik yang pernah ia buat menggunakan OSINT adalah karya investigasi mengenai pelaku pembakaran Halte Sarinah pada Oktober 2020 saat ada demo Omnibus Law. Menggunakan aplikasi media sosial TikTok dan CCTV yang disediakan Bali Tower, Aqwam dan rekan-rekannya dapat menyajikan informasi bahwa pelaku pembakaran halte melakukan aksinya secara sistematis.

Apa itu OSINT?
OSINT sebetulnya bukan hal baru. Ini merupakan sebuah metodologi untuk mendapat informasi terbuka di dunia maya. Hal ini wajar dilakukan oleh intelijen, sekarang juga dipakai media untuk beberapa kasus. Bicara OSINT itu sekarang selalu dikaitkan dengan pencarian sumber data terbuka berbasis digital. Apalagi ekosistem digital melekat sekali dengan kita.

Apa bedanya OSINT dengan data journalism?
Kata kuncinya investigasi. Data jurnalisme belum tentu investigasi. Data jurnalisme tidak mesti berbasis digital, sementara OSINT mayoritas digital.

Bagaimana Anda mengenal istilah tersebut dalam industri media?
Dari Arab Spring, saya mengenal OSINT dari gerakan tersebut. Metode ini bisa dipakai banyak hal dari politik, isu lingkungan, hingga melacak korban perdagangan manusia.

Kenapa OSINT perlu dipakai di industri media?
Cost-nya murah. Investigasi itu mahal. OSINT membuat investigasi Anda menjadi lebih ‘matang’. Riset itu bagian dari OSINT, termasuk juga Googling. Dalam Googling, ada teknik dengan memanfaatkan keyword tertentu untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam namanya Google Dorking / Google Hacking.

Apa kendala dalam menggunakan metodelogi OSINT?
Butuh kesabaran, karena untuk mendapatkan data yang diinginkan memerlukan proses yang lama. Ketika Anda menemukan hal yang baru, mungkin bisa kebingungan.

Apakah di Indonesia sudah banyak data terverifikasi yang tersedia untuk masyarakat?
Di Indonesia, banyak data yang tertutup dan susah dicari. Maka dari itu, verifikasinya menggunakan sumber offline, jurnalis selalu membutuhkan akses lewat ‘’jalur belakang’’ atau menggunakan data sekunder / wawancara. Berbeda dengan Tiongkok yang keterbukaannya bagus tapi privasi tetap terjaga. 

Bagaimana Anda selama ini melihat keterlibatan Humas dengan para jurnalis. Apa yang menurut Anda perlu ditingkatkan dan dihindari?
Terkadang humas membuat laporan terlalu kaku, sehingga informasi yang disampaikan terlalu sepihak. Tidak ada hal-hal kreatif lain yang bisa dimasukkan untuk menopang informasi yang disampaikan. Kesannya terlalu hard selling, hanya memberikan ruang untuk ‘’bos perusahaan’’ bercerita, jadi informasi yang diberikan cenderung garing.

Menurut Anda, bagaimana rilis pers yang ideal?
Yang kreatif saja. Banyak narasumber dan strukturnya sudah dibuat seperti ficer.

Apa kesalahan yang kerap kali Humas lakukan dalam membuat rilis pers?
Judul tidak menarik dan kebanyakan yang terjadi adalah data yang tersedia membuat wartawan menjadi bingung.
 
Baca konten Telum lainnya:
Telum vox pop: Reaksi jurnalis terhadap peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia
Telum Talks to... Vinsensius Sitepu, Editor-in-Chief, Blockchainmedia.id
Telum talks to… Tubagus Guritno, Pemimpin Redaksi, TabloidBintang.com
Telum talks to… Purwandana Budyandaka, Pemimpin Redaksi, CintaMobil.com
Media paywall di Indonesia

Lebih banyak cerita


basis data media Telum

  • Aqwam Fiazmi Hanifan
  • Narasi
    40 kontak
    1 media request

Hubungi kami untuk detail lebih lanjut

Meminta Demo

layanan peringatan Telum

Lansiran email reguler yang menampilkan berita terbaru dan perpindahan dari industri media di seluruh Asia Pasifik

Berlangganan alert